Tampilkan postingan dengan label Setetes Embun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Setetes Embun. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 April 2012

Membangun Keluarga Islami

Nikah merupakan sunnah Rasul yang sangat sakral, karenanya nikah juga merupakan ikatan yang sangat kuat yang dalam istilah Al-Qur'an disebut dengan miytsaqon ghaliyzho (QS 4:21) yang kata ini digunakan juga untuk menyebut perjanjian antara para Nabi dengan Allah Swt dalam mengemban perjuangan da'wah (QS 33:7). Oleh karena itu pernikahan dan walimatul arusy harus dilaksanakan yang sesuai dengan ajaran Islam. Karena itu pernikahan jangan sampai dinodai dengan hal-hal yang bernilai maksiat. Sesudah pernikahan berlangsung, kehidupan berumah tanggapun harus dijalani dengan sebaik-baiknya meskipun tantangan dan godaan menjalani kehidupan rumah tangga yang Islami sangat banyak.

Untuk menjalani kehidupan rumah tangga yang islami, ada beberapa hal yang harus mendapat perhatian suami dan isteri.



1. Memperkokoh Rasa Cinta.

Cinta merupakan perekat dalam kekokohan kehidupan rumah tangga, bila rasa cinta suami kepada isteri atau sebaliknya telah hilang dari hatinya, maka kehancuran rumah tangga sangat sulit dihindari. Oleh karena itu suasana cinta mencintai harus saling ditumbuh-suburkan atau diperkokoh, tidak hanya pada masa-masa awal kehidupan rumah tangga, tapi juga pada masa-masa selanjutnya hingga suami isteri mencapai masa tua dan menemui kematian.



Rasulullah Saw sebagai seorang suami berhasil membagi dan menumbuh-suburkan rasa cinta kepada semua isterinya sehingga isteri yang satu mengatakan dialah yang paling dicintai oleh Rasul, begitu juga dengan isteri yang lainnya.



Berumah tangga itu diumpamakan seperti orang yang sedang berlayar, ketika pelayaran baru dimulai, kondisi di kapal masih tenang karena disamping penumpangnya betul-betul ingin menikmati pelayaran itu, juga karena belum ada kesulitan, belum ada ombak dan angin kencang yang menerpa, tapi ketika kapal itu telah mencapai lautan yang jauh, barulah terasa ombak besar dan angin yang sangat kencang menerpa, dalam kondisi seperti itu saling mengokohkan rasa cinta antara suami dengan isteri menjadi sesuatu yang sangat penting dalam menghadapi dan mengatasi terpaan badai kehidupan rumah tangga. Pernikahan dilangsungkan dengan maksud agar lelaki dan wanita yang mengikat hubungan suami isteri dapat memperoleh ketenangan dan rasa cinta. Allah berfirman yang artinya: Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menjadikan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar menjadi tanda-tanda bagi kaum yang berpikir (QS 30:21).



2. Saling Hormat Menghormati.

Saling cinta mencintai itu harus diperkokoh dengan saling hormat menghormati, suami hormat kepada isteri dengan memberikan penghargaan yang wajar terhadap hal-hal baik yang dilakukan isterinya, begitu juga dengan isteri terhadap suaminya dengan menerima apa-apa yang diberikan suami meskipun jumlahnya tidak banyak.



Awal-awal kehidupan rumah tangga selalu dengan masa romantis yang segalanya indah, bahkan adanya kelemahan dan kekurangan tidak terlalu dipersoalkan, romantisme memang membuat penilaian suami terhadap isteri dan isteri terhadap suaminya menjadi sangat subyektif. Tapi ketika rumah tangga berlangsung semakin lama mulailah muncul penilaian yang obyektif dalam arti suami menilai isteri atau isteri menilai suami apa adanya. Dulu ketika masa romantis, kekurangan masing-masing sebenarnya sudah terlihat tapi tidak terlalu dipersoalkan, tapi sekarang kekurangan yang tidak prinsip saja dipersoalkan, dalam kondisi seperti itulah diperlukan konsolidasi hubungan antara suami dan isteri hingga masing-masing menyadari bahwa memang kekurangan itu ada tapi dia juga harus menyadari akan adanya kelebihan.



Dalam kehidupan rumah tangga Rasulullah Saw, beliau telah mencontohkan kepada kita betapa beliau berlaku baik kepada keluarganya, dalam satu hadits beliau bersabda: Orang yang paling baik diantara kamu adalah yang paling baik dengan keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku (HR. Thabrani).



3. Saling Menutupi Kekurangan.

Suami dan isteri tentu saja memiliki banyak kekurangan, tidak hanya kekurangan dari segi fisik, tapi juga dari sifat-sifat. Oleh karena itu suami isteri yang baik tentu saja menutupi kekurangan-kekurangan itu yang berarti tidak suka diceriterakan kepada orang lain, termasuk kepada orang tuanya sendiri.



Meskipun demikian dengan maksud untuk konsultasi dan perbaikan atas persoalan keluarga kepada orang yang sangat dipercaya, maka seseorang boleh saja mengungkapkan kekurangan sifat-sifat suami atau isteri.



4. Kerjasama Dalam Keluarga.

Dalam mengarungi kehidupan rumah tangga tentu saja banyak beban yang harus diatasi, misalnya beban ekonomi, dalam hal ini suami harus mencari nafkah dan isteri harus membelanjakannya dengan sebaik-baiknya dalam arti untuk membeli hal-hal yang baik dan tidak boros. Begitu juga dengan tanggung jawab terhadap pendidikan anak yang dalam kaitan ini diperlukan kerjasama yang baik antara suami dan isteri dalam menghasilkan anak-anak yang shaleh. Kerjasama yang baik dalam mendidik anak itu antara lain dalam bentuk sama-sama meningkatkan keshalehan dirinya sebagai orang tua karena mendidik anak itu harus dengan keteladanan yang baik, juga tidak ada kontradiksi antara sikap bapak dengan ibu dalam mendidik anak dan sebagainya. Keharusan kita bekerjasama dalam hal-hal yang baik difirmankan Allah yang artinya: Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran (QS 5:2).



5. Memfungsikan Rumah Tangga Secara Optimal.

Masa sesudah menikah juga harus dijalani dengan memfungsikan keluarga seoptimal mungkin sehingga rumah tangga itu tidak sekedar dijadikan seperti terminal dalam arti anggota keluarga menjadikan rumah sekedar untuk singgah sebagaimana terminal, tapi semestinya rumah tangga itu difungsikan sebagai tempat kembali guna menghilangkan rasa penat dan memperbaiki diri dari pengaruh yang tidak baik serta memperkokoh hubungan dengan sesama anggota keluarga.



Oleh karena itu keluarga harus dioptimalkan fungsinya seperti masjid dalam arti rumah difungsikan juga sebagai tempat untuk mengokohkan hubungan dengan Allah Swt dan sesama anggota keluarga sehingga bisa dihindari sikap individual antar sesama anggota keluarga.



Disamping itu rumah juga harus difungsikan seperti madrasah yang anggota keluarganya harus memperoleh ilmu dan pembinaan karakter sehingga suami dan isteri diharapkan berfungsi seperti guru bagi anak-anaknya yang memberikan ilmu dan keteladanan yang baik.

Yang juga penting dalam kehidupan sekarang dan masa mendatang adalah memfungsikan keluarga seperti benteng pertahanan yang memberikan kekuatan pertahanan aqidah dan kepribadian dalam menghadapi godaan-godaan kehidupan yang semakin banyak menjerumuskan manusia ke lembah kehidupan yang bernilai maksiat dalam pandangan Allah dan rasul-Nya.



Mewujudkan rumah tangga yang Islami merupakan sesuatu yang tidak mudah, banyak sekali kendala, baik internal maupun eksternal yang harus dihadapi. Namun harus diingat bahwa kendala yang besar dan banyak itu bukan berarti mewujudkan rumah tangga yang Islam tidak bisa, setiap kita harus yakin akan kemungkinan bisa membentuk rumah tangga yang Islami, kalau kita sudah yakin, maka kita dituntut membuktikan keyakinan itu dengan kesungguhan. Hal ini karena melaksanakan ajaran Islam memang sangat dituntut kesungguhan yang sangat.



Akhirnya untuk meraih kehidupan rumah tangga yang bahagia, ada baiknya kita telaah hadits Rasul saw berikut ini:

Empat perkara yang merupakan dari kebahagian seseorang, yaitu: mempunyai isteri yang shalehah, mempunyai anak yang berbakti, mempunyai teman yang shaleh dan mencari rizki di negerinya sendiri (HR. Dailami dari Ali ra)



Drs. H. Ahmad Yani

Senin, 28 Maret 2011

Jika Kalian Bersyukur, AKU Tambah NikmatKU Pada Kalian

Setan Membuka Hakikat Penting
Ketika diperintahkan Allah Ta’ala sujud kepada Nabi Adam Alaihis Salam, setan menolak melaksanakan perintah ini. Akibatnya, ia diusir, dimasukkan ke dalam jajaran makhluk terkutuk, dan diancam masuk neraka. Setan tidak hanya mendengar perintah pengusiran dirinya. Tapi, dengan sikap pongah, yang malah menunjukkan kebrengsekannya, ia berjanji akan menyesatkan anak keturunan Adam Alaihis Salam, yang menurutnya menjadi biang keladi pengusirannya dari surge. Setan berkata,

“Saya pasti (menghalang-halangi) mereka dari jalanMU yang lurus. Kemudian saya pasti mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur”. (Al-A’raaf : 16-17).

Di sini, setan membuka hakikat penting yang tidak diketahui banyak orang, yaitu mayoritas besar manusia tidak bersyukur kepada Allah Ta’ala dan orang yang selamat di antara mereka adalah orang yang bersyukur.

Definisi Syukur

Kalimat “Syakarat Ad-Dabbatu”, maksudnya, unta itu gemuk. Unta dikatakan gemuk jika terlihat padanya tanda-tanda makanan yang telah dimakannya. Unta dikatakan syakur jika terlihat padanya kegemukan melebihi kadar porsi makanan yang telah dimakannya (Uddatu Ash-Shabirin, hal. 122 dan Madariju As-Salikin, hal. 384).


Hai Keluarga Dawud, Lakukan Syukur kepada Allah
Allah Ta’ala tidak berfirman kepada Nabi Dawud Alaihis Salam, “Ucapkanlah syukur kepada Allah”, namun berfirman, “Lakukanlah”. Ini menandaskan syukur tidak terealisir dengan sempurna, kecuali dengan mengamalkan perintah Allah Ta’ala dan menjauhi laranganNya. Jadi syukur ialah realisasi ibadah itu sendiri. Ini tidak seperti dipahami sebagian besar orang bahwa syukur itu memuji Allah Ta’ala dengan lidah atau komat-kamit setelah shalat, atau setelah makan kenyang.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Menerjemahkan Syukur ke dalam tindakan Nyata
Aisyah Radhiyallahu Anha merasa heran dengan qiyamu lail Rasulullah. Beliau melakukannya hingga kedua kaki beliau bengkak. Dengan nada takjub dan penuh tanda tanya, Aisyah berkata : “Engkau masih berbuat seperti ini, padahal allah telah mengampuni dosa-dosa silammu dan dosa-dosamu pada masa mendatang”. Rasulullah bersabda :” Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?”. (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak memahami syukur sebatas pujian dengan lidah. Menurut beliau, syukur ialah upaya seluruh organ tubuh untuk mengerjakan apa saja yang diridhai pemberi nikmat (Allah).

Seluruh makna syukur ini dirangkum Ibnu Al Qayyim Rahimahullah dengan perkataannya, “Syukur ialah terlihatnya tanda-tanda nikmat Allah pada lidah hambaNya dalam bentuk pujian, di hatinya dalam bentuk cinta kepadaNya dan pada organ tubuh dalam bentuk taat dan tunduk”.
Bentuk konkrit syukur ialah lidah tidak menyanjung selain Allah Ta’ala dan di hati tidak ada kekasih kecuali Dia. Kalaupun seorang mencintai orang lain, ia mencintainya karena Allah. Lalu, cinta ini dialihkan ke organ tubuh, kemudian seluruh organ tubuh mengerjakan apa saja yang diperintahkan kekasih (Allah) dan menjauhi apa saja yang Dia larang. Itulah figure orang syukur sejati.

(Sumber : Taujih Ruhiyah 1, karya : Abdul Hamid Al-Bilali)

Minggu, 06 Maret 2011

AKU BERTAWAKKAL KEPADA ALLAH (2)

Ah, Seandainya Kita Bersama Mereka
Sungguh berbahagia orang yang menerapkan makna hakiki tawakkal di seluruh aspek kehidupannya, karena ada berbagai kabar gembira untuknya :

1.Ia punya kans besar masuk kelompok tujuh puluh ribu orang yang masuk surge tanpa dihisab, seperti disebutkan di Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim serta ayat,
“Dan mereka bertawakkal kepada Tuhan mereka”. (Al-Anfal : 2).

2.Pengenalannya kepada Allah Ta’ala meningkat ketika ia merealisir nama dan sifat Allah Ta’ala, seperti Al-Qadir (MahaKuasa), Ar-Razzaq (Pemberi Rizki), Al-Muhyi (Dzat yang menghidupkan), Al-Mumit (Dzat yang mematikan), dan lain-lain. Ia pun makin dekat denganNya.

3.Ia tidak melakukan syirik dan tidak tertarik kepada apa saja selain Allah Ta’ala. Ia juga semakin mulia.

4.Ia makin ridho dengan takdir Allah Ta’ala. Inilah kepasrahan total hati kepadaNya.

5.Hatinya tidak ada lagi takut kepada makhluk. Allah Ta’ala berfirman :
“Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, karena itu, takutlah pada mereka, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah sebaik-baiknya Pelindung”. (Ali Imran : 173).

6.Ia semakin mendapatkan petunjuk, dilindungi dari hal-hal buruk, dan seluruh kebutuhannya dicukupi. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :
“Barangsiapa ketika keluar rumah berkata, “Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakkal kepadaNya. Tidak ada daya dan upaya kecuali denganNya”., maka dikatakan kepadanya “Engkau mendapatkan petunjuk, dilindungi, dan dicukupi”. Setan berkata kepada setan lainnya, “Bagaimana engkau dapat menaklukkan orang yang telah mendapat petunjuk, dicukupi, dan dilindungi (Diriwayatkan At-Tirmidzi dan dishahihkan Al-Albani).

(Sumber : Taujih Ruhiyah 1, karya : Abdul Hamid Al-Bilali)

Minggu, 06 Februari 2011

AKU BERTAWAKKAL KEPADA ALLAH (1)

Definisi Tawakkal
Tawakkal sering diucapkan banyak orang di setiap pagi dan moment. Tapi, sedikit dari mereka yang memahami maknanya. Lalu, di antara yang sedikit ini, sedikit pula yang menerapkannya dan merubahnya dari ungkapan kata menjadi realitas konkrit di kehidupannya bersama dirinya sendiri, Allah Ta’ala, dan manusia.
Tawakkal ialah Anda melimpahkan seluruh urusan Anda kepada Allah Ta’ala. Tawakkal juga berarti percaya kepada Allah Ta’ala, beriman kepada kemampuan, kekuatan dan ilmuNya. Jadi, tawakkal ialah bersandar secara total kepada Allah dan hasilnya ialah beriman secara nyata kepada sebagian nama dan sifatNya.

Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata, “Tawakkal itu separoh agama dan separohnya lainnya ialah inabah (taubat). Agama itu ibadah dan isti’anah (minta pertolongan). Tawakkal ialah meminta pertolongan dan inabah adalah ibadah (Tahdzibu Madariji As-Salikin, hal 336).

Jika Anda minta pertolongan kepada Allah Ta’ala, itu berarti Anda mengakui diri Anda lemah dan bodoh, beriman kepada ilmu Allah dan kekuasaanNya. Lalu, Anda tunduk kepadaNya, minta pertolonganNya dan mencintaiNya. Itu semua makna ibadah.

Nabi Yusuf Alaihis Salam dan Dua Sahabatnya
Di tafsirnya yang bermutu, Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah menguatkan pendapat bahwa hukuman Allah Ta’ala kepada Nabi Yusuf Alaihis Salam, berupa mendekam beberapa tahun di penjara disebabkan beliau minta pertolongan kepada manusia, sebelum kepada Allah Ta’ala. Hal itu terjadi, saat Nabi Yusuf berkata kepada sahabatnya, yang beliau yakini akan bebas,
“Terangkan keadaanku pada tuanmu” (Yusuf : 42).

Yang dimaksud dengan kata tuanmu pada ayat itu ialah rajamu. Allah Ta’ala berfirman :
“Maka setan menjadikan lupa ingat Tuhannya (Yusuf : 42).

Maksudnya, setan membuat Nabi Yusuf Alaihis Salam lupa tidak minta pertolongan kepada Allah Ta’ala, dengan menyebut Tuhan hakikinya dan malah minta pertolongan kepada manusia. Allah Ta’ala berfirman,
“karena itu, dia (Yusuf) berasa di penjara selama beberapa tahun. (Yusuf : 42).

Allah Ta’ala tidak rela seseorang minta pertolongan kepada selain Dia, karena selain Dia tidak punya daya dan upaya. Selain Dia, kendati punya kekuatan digdaya, kekuasaan tidak terbatas, dan persenjataan modern, namun tidak lebih dari salah seorang hambaNya, di mana seluruh gerakan, bisikan, dan keinginannya berada di bawah keinginan dan kekuasaan Allah Ta’ala.

Maryam Menggoyang Pohon Kurma
Kita kagum dengan firman Allah Ta’ala di surat Maryam,
“Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu”. (Maryam : 25).

Bagaimana mungkin Maryam dalam kondisi nifas, lelah dan capek setelah melahirkan, hingga tidak dapat bergerak sedikitpun, tapi mampu menggoyang pohon kurma? Padahal, kita tahu pohon kurma itu pohon paling kokoh dan akar-akarnya paling kuat dibandingkan dengan akar-akar pohon yang lain? Selain itu, tandan pohon kurma, yang perlu digoyang agar kurmanya jatuh tentu tinggi sekali, hingga tidak mampu dijangkau oleh tangan? Bagaimana Maryam, yang notabene wanita yang di antara karakternya lemah, ditambah hamil, serta kondisi kejiwaannya tidak ideal ebab ia ketakutan dituduh pezina oleh keluarganya padahal ia orang suci, tapi ia sanggup menggoyang pohon kurma?
Itulah ketentuan Allah Ta’ala dalam mencurahkan tenaga, agar makna hakiki tawakkal terealisir dengan manis. Karena itu, orang yang bertawakkal kepada Allah harus mencurahkan tenaga dan berusaha. Inilah ketetapan Allah. Makna ini terlihat dengan jelas di banyak ayat Al-Qur’an dan sirah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Kita lihat Allah berfirman :
“Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tapi Allah yang melempar (Al-Anfal : 17).

Itu terjadi setelah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam mengambil segenggam tanah dan melemparkannya ke wajah orang-orang kafir di salah satu perang. Lalu, tanah mengenai mata seluruh orang kafir dna menjadi salah satu sebab kemenangan kaum muslimin. Allah menghendaki sebab tersebut pada Rasulullah, yaitu melempar segenggam tanah, sedang pemberi kemenangan hakiki adalah Allah sendiri. Karena itu Allah tidak “memperhitungkan” lemparan Rasulullah dan menganggap “lemparanNya”. Sebab, setelah bertawakkal kepada Allah, Rasulullah tidak menambahkan sesuatu apapun pada usaha beliau. Hal yang sama terjadi pada tongkat Nabi Musa Alaihis Salam.

(Sumber : Taujih Ruhiyah 1, karya : Abdul Hamid Al-Bilali)

Selasa, 01 Februari 2011

PARA PECINTA WAKTU FAJAR (2)

Orang Yang Mengerjakan Shalat Shubuh dan Shalat Ashar Tidak Masuk Neraka
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan, siapa saja yang konsisten mengerjakan shalat shubuh dan shalat ashar, ia masuk surge dan dijauhkan dari neraka. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tersebut,

“Siapa mengerjakan shalat Shubuh dan shalat Ashar, ia masuk surga”. (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda,
“Siapapun yang mengerjakan shalat sebelum matahari terbit (shalat Shubuh) dan terbenam (shalat Ashar), maka tidak akan masuk neraka.” (Diriwayatkan Muslim).

Imam Al-Manawi berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberi penekanan khusus pada shalat Shubuh dan shalat Ashar, karena punya nilai lebih dibandingkan shalat-shalat lainnya, atau karena disaksikan malaikat yang bertugas malam dan siang hari, atau karena kedua shalat itu sulit dikerjakan manusia, sebab waktu ashalat Ashar waktu sibuk sedang shalat Shubuh waktu sulit. Karenanya, barangsiapa memperhatikan kedua shalat itu, ia pasti memperhatikan shalat-shalat lainnya. Barangsiapa mengerjakan kedua shalat itu dengan konsisten, tentu ia lebih konsisten mengerjakan shalat-shalat lainnya dan ia nyaris tidak lalai. Jika ia seperti itu, dosa-dosanya diampuni dan ia masuk surga.
Kita amat prihatin pada orang-orang yang mengklaim dirinya dai yang berbaiat kepada Allah Ta’ala untuk mengemban amanah dakwah. Faktanya, mereka manusia paling malas mengerjakan shalat Shubuh berjamaah. Hati mereka terbiasa dengan kondisi seperti itu, lalu memandang diri mereka tidak bermasalah jika tidak mengerjakan shalat Shubuh berjamaah dan tidak menghisab diri mereka atas kelalaian ini. Bagaimana orang yangmempredikatkan dirinya dai yang mengajak kepada kebaikan, tapi ia punya jiwa yang tidak mengecam perilakunya yang tidak mengerjakan salah satu rukun Islam? Apakah ia tidak takut dicap sebagai orang munafik?.
 
Qur’anul Fajr
Allah Ta’ala berfirman :
“Dan Shalat Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan.”(Al-Isra’:78).

Yang dimaksud dengan Qur’anul Fajr pada ayat di atas ialah shalat Fajar (Shubuh), yang disaksikan para malaikat. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda ,

“Malaikat yang bertugas malam dan malaikat yang bertugas siang pergi secara bergantian kepada kalian. Mereka bertemu saat shalat Shubuh dan shalat Ashar. Malaikat yang bertugas malam naik, lalu ditanya Allah, padahal Dia lebih tahu daripada mereka, “Bagaimana kalian meninggalkan hamba-hambaKu? Para malaikat yang bertugas malam menjawab,”Kami tinggalkan mereka sedang mengerjakan shalat dan datang lagi kepada mereka saat mereka mengerjakan shalat”. (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).

Betapa bahagianya orang mampu berjihad melawan dirinya, tidak menggubris kenikmatan dan kehangatan “ranjang”, serta melawan semua daya tarik yang menyeretnya ke “ranjang”, demi mendapatkan “cek” bersih dari sifat orang munafik, menjadi orang-orang yang layak menerima berita gembira Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam akan masuk surge, memperoleh kesaksian para malaikat dan pertanyaan Allah Ta’ala. Karena keagungan fajar, Allah bersumpah dengannya saat berfirman,

“Demi fajar. Dan malam yang sepuluh. (Al-Fajr : 1-2)

Fajar itu Standar Untuk Menilai Orang
Para sahabat Radhiyallahu Anhum menjadikan shalat jamaah Shubuh sebagai standar untuk menilai orang. Barangsiapa hadir di jamaah shalat Shubuh, mereka mempercayainya. Dan, barangsiapa tidak menghadirinya, mereka berburuk sangka padanya. Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma berkata, “Jika kita tidak melihat seseorang di jama’ah shalat Shubuh dan Isya’, kita berburuk sangka padanya” (Shahih Ibnu Khuzaimah).

Apakah perkataan Ibnu Umar ini tidak mengguncang hati dai dewasa ini, membuat mereka berlomba dengan orang lain untuk menghirup udara pagi, menjadi orang-orang terdepan yang akan ditulis di buku para malaikat yang bertugas malam dan siang hari, serta menjadi pecinta-pecinta fajar?

(Sumber : Taujih Ruhiyah 1, karya : Abdul Hamid Al-Bilali)

Senin, 31 Januari 2011

PARA PECINTA WAKTU FAJAR (1)

Fajar simbol kemunculan semua kebaikan. Simbol kemenangan. Lambang kehidupan. Identitas masa muda. Bukti gerak dan dinamisme. Dalil kebenaran dan keadilan. Fajar terjadi pada waktu sangat hening. Selain itu, fajar merupakan saat-saat kebeningan, moment pembagian rizki, shalat Fajar (Shubuh) bukti nyata kuatnya iman dan kesuciannya dari kemunafikan, sebab waktu ituu saat serba sulit bagi jiwa manusia. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda di hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim,

“Shalat paling berat pelaksanaannya bagi orang-orang munafik ialah shalat Isya’ dan shalat Shubuh. Andai mereka tahu kebaikan pada keduanya, tentu mereka mengerjakannya kendati dengan merangkak”. (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).

Udara Pagi
Dr. Abdul Hamid Dayyab berkata, “Manfaat kesehatan yang diperoleh orang dengan bangun pagi banyak sekali. Di antaranya, gas O3 di udara sangat melimpah saat fajar, lalu berkurang sedikit demi sedikit, hingga habis ketika matahari terbit. Gas O3 punya pengaruh positif pada urat saraf, mengaktifkan kerja otak dan tulang. Ketika seseorang menghirup udara fajar yang dinamakan udara pagi, ia merasakan kenikmatan dan kesegaran tiada taranya di waktu mana pun, baik siang atau malam”.

Dua Raka’at Shalat Fajar
Dua raka’at shalat Fajar adalah shalat sunnah qabliyah (sebelum) shalat Shubuh. Shalat ini disukai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, hingga beliau bersabda,

“Dua raka’at shalat Fajar lebih baik dari dunia dan seisinya”. (Diriwayatkan Muslim).

Jika dunia dan seisinyya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan dua raka’at shalat sunnah Fajar (Shubuh) di mata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bagaimana dengan keutamaan shalat Shubuh itu sendiri?


(Sumber : Taujih Ruhiyah 1, karya : Abdul Hamid Al-Bilali)