Senin, 28 Maret 2011

Jika Kalian Bersyukur, AKU Tambah NikmatKU Pada Kalian

Setan Membuka Hakikat Penting
Ketika diperintahkan Allah Ta’ala sujud kepada Nabi Adam Alaihis Salam, setan menolak melaksanakan perintah ini. Akibatnya, ia diusir, dimasukkan ke dalam jajaran makhluk terkutuk, dan diancam masuk neraka. Setan tidak hanya mendengar perintah pengusiran dirinya. Tapi, dengan sikap pongah, yang malah menunjukkan kebrengsekannya, ia berjanji akan menyesatkan anak keturunan Adam Alaihis Salam, yang menurutnya menjadi biang keladi pengusirannya dari surge. Setan berkata,

“Saya pasti (menghalang-halangi) mereka dari jalanMU yang lurus. Kemudian saya pasti mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur”. (Al-A’raaf : 16-17).

Di sini, setan membuka hakikat penting yang tidak diketahui banyak orang, yaitu mayoritas besar manusia tidak bersyukur kepada Allah Ta’ala dan orang yang selamat di antara mereka adalah orang yang bersyukur.

Definisi Syukur

Kalimat “Syakarat Ad-Dabbatu”, maksudnya, unta itu gemuk. Unta dikatakan gemuk jika terlihat padanya tanda-tanda makanan yang telah dimakannya. Unta dikatakan syakur jika terlihat padanya kegemukan melebihi kadar porsi makanan yang telah dimakannya (Uddatu Ash-Shabirin, hal. 122 dan Madariju As-Salikin, hal. 384).


Hai Keluarga Dawud, Lakukan Syukur kepada Allah
Allah Ta’ala tidak berfirman kepada Nabi Dawud Alaihis Salam, “Ucapkanlah syukur kepada Allah”, namun berfirman, “Lakukanlah”. Ini menandaskan syukur tidak terealisir dengan sempurna, kecuali dengan mengamalkan perintah Allah Ta’ala dan menjauhi laranganNya. Jadi syukur ialah realisasi ibadah itu sendiri. Ini tidak seperti dipahami sebagian besar orang bahwa syukur itu memuji Allah Ta’ala dengan lidah atau komat-kamit setelah shalat, atau setelah makan kenyang.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Menerjemahkan Syukur ke dalam tindakan Nyata
Aisyah Radhiyallahu Anha merasa heran dengan qiyamu lail Rasulullah. Beliau melakukannya hingga kedua kaki beliau bengkak. Dengan nada takjub dan penuh tanda tanya, Aisyah berkata : “Engkau masih berbuat seperti ini, padahal allah telah mengampuni dosa-dosa silammu dan dosa-dosamu pada masa mendatang”. Rasulullah bersabda :” Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?”. (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak memahami syukur sebatas pujian dengan lidah. Menurut beliau, syukur ialah upaya seluruh organ tubuh untuk mengerjakan apa saja yang diridhai pemberi nikmat (Allah).

Seluruh makna syukur ini dirangkum Ibnu Al Qayyim Rahimahullah dengan perkataannya, “Syukur ialah terlihatnya tanda-tanda nikmat Allah pada lidah hambaNya dalam bentuk pujian, di hatinya dalam bentuk cinta kepadaNya dan pada organ tubuh dalam bentuk taat dan tunduk”.
Bentuk konkrit syukur ialah lidah tidak menyanjung selain Allah Ta’ala dan di hati tidak ada kekasih kecuali Dia. Kalaupun seorang mencintai orang lain, ia mencintainya karena Allah. Lalu, cinta ini dialihkan ke organ tubuh, kemudian seluruh organ tubuh mengerjakan apa saja yang diperintahkan kekasih (Allah) dan menjauhi apa saja yang Dia larang. Itulah figure orang syukur sejati.

(Sumber : Taujih Ruhiyah 1, karya : Abdul Hamid Al-Bilali)

Minggu, 06 Maret 2011

AKU BERTAWAKKAL KEPADA ALLAH (2)

Ah, Seandainya Kita Bersama Mereka
Sungguh berbahagia orang yang menerapkan makna hakiki tawakkal di seluruh aspek kehidupannya, karena ada berbagai kabar gembira untuknya :

1.Ia punya kans besar masuk kelompok tujuh puluh ribu orang yang masuk surge tanpa dihisab, seperti disebutkan di Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim serta ayat,
“Dan mereka bertawakkal kepada Tuhan mereka”. (Al-Anfal : 2).

2.Pengenalannya kepada Allah Ta’ala meningkat ketika ia merealisir nama dan sifat Allah Ta’ala, seperti Al-Qadir (MahaKuasa), Ar-Razzaq (Pemberi Rizki), Al-Muhyi (Dzat yang menghidupkan), Al-Mumit (Dzat yang mematikan), dan lain-lain. Ia pun makin dekat denganNya.

3.Ia tidak melakukan syirik dan tidak tertarik kepada apa saja selain Allah Ta’ala. Ia juga semakin mulia.

4.Ia makin ridho dengan takdir Allah Ta’ala. Inilah kepasrahan total hati kepadaNya.

5.Hatinya tidak ada lagi takut kepada makhluk. Allah Ta’ala berfirman :
“Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, karena itu, takutlah pada mereka, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah sebaik-baiknya Pelindung”. (Ali Imran : 173).

6.Ia semakin mendapatkan petunjuk, dilindungi dari hal-hal buruk, dan seluruh kebutuhannya dicukupi. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :
“Barangsiapa ketika keluar rumah berkata, “Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakkal kepadaNya. Tidak ada daya dan upaya kecuali denganNya”., maka dikatakan kepadanya “Engkau mendapatkan petunjuk, dilindungi, dan dicukupi”. Setan berkata kepada setan lainnya, “Bagaimana engkau dapat menaklukkan orang yang telah mendapat petunjuk, dicukupi, dan dilindungi (Diriwayatkan At-Tirmidzi dan dishahihkan Al-Albani).

(Sumber : Taujih Ruhiyah 1, karya : Abdul Hamid Al-Bilali)

Minggu, 06 Februari 2011

AKU BERTAWAKKAL KEPADA ALLAH (1)

Definisi Tawakkal
Tawakkal sering diucapkan banyak orang di setiap pagi dan moment. Tapi, sedikit dari mereka yang memahami maknanya. Lalu, di antara yang sedikit ini, sedikit pula yang menerapkannya dan merubahnya dari ungkapan kata menjadi realitas konkrit di kehidupannya bersama dirinya sendiri, Allah Ta’ala, dan manusia.
Tawakkal ialah Anda melimpahkan seluruh urusan Anda kepada Allah Ta’ala. Tawakkal juga berarti percaya kepada Allah Ta’ala, beriman kepada kemampuan, kekuatan dan ilmuNya. Jadi, tawakkal ialah bersandar secara total kepada Allah dan hasilnya ialah beriman secara nyata kepada sebagian nama dan sifatNya.

Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata, “Tawakkal itu separoh agama dan separohnya lainnya ialah inabah (taubat). Agama itu ibadah dan isti’anah (minta pertolongan). Tawakkal ialah meminta pertolongan dan inabah adalah ibadah (Tahdzibu Madariji As-Salikin, hal 336).

Jika Anda minta pertolongan kepada Allah Ta’ala, itu berarti Anda mengakui diri Anda lemah dan bodoh, beriman kepada ilmu Allah dan kekuasaanNya. Lalu, Anda tunduk kepadaNya, minta pertolonganNya dan mencintaiNya. Itu semua makna ibadah.

Nabi Yusuf Alaihis Salam dan Dua Sahabatnya
Di tafsirnya yang bermutu, Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah menguatkan pendapat bahwa hukuman Allah Ta’ala kepada Nabi Yusuf Alaihis Salam, berupa mendekam beberapa tahun di penjara disebabkan beliau minta pertolongan kepada manusia, sebelum kepada Allah Ta’ala. Hal itu terjadi, saat Nabi Yusuf berkata kepada sahabatnya, yang beliau yakini akan bebas,
“Terangkan keadaanku pada tuanmu” (Yusuf : 42).

Yang dimaksud dengan kata tuanmu pada ayat itu ialah rajamu. Allah Ta’ala berfirman :
“Maka setan menjadikan lupa ingat Tuhannya (Yusuf : 42).

Maksudnya, setan membuat Nabi Yusuf Alaihis Salam lupa tidak minta pertolongan kepada Allah Ta’ala, dengan menyebut Tuhan hakikinya dan malah minta pertolongan kepada manusia. Allah Ta’ala berfirman,
“karena itu, dia (Yusuf) berasa di penjara selama beberapa tahun. (Yusuf : 42).

Allah Ta’ala tidak rela seseorang minta pertolongan kepada selain Dia, karena selain Dia tidak punya daya dan upaya. Selain Dia, kendati punya kekuatan digdaya, kekuasaan tidak terbatas, dan persenjataan modern, namun tidak lebih dari salah seorang hambaNya, di mana seluruh gerakan, bisikan, dan keinginannya berada di bawah keinginan dan kekuasaan Allah Ta’ala.

Maryam Menggoyang Pohon Kurma
Kita kagum dengan firman Allah Ta’ala di surat Maryam,
“Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu”. (Maryam : 25).

Bagaimana mungkin Maryam dalam kondisi nifas, lelah dan capek setelah melahirkan, hingga tidak dapat bergerak sedikitpun, tapi mampu menggoyang pohon kurma? Padahal, kita tahu pohon kurma itu pohon paling kokoh dan akar-akarnya paling kuat dibandingkan dengan akar-akar pohon yang lain? Selain itu, tandan pohon kurma, yang perlu digoyang agar kurmanya jatuh tentu tinggi sekali, hingga tidak mampu dijangkau oleh tangan? Bagaimana Maryam, yang notabene wanita yang di antara karakternya lemah, ditambah hamil, serta kondisi kejiwaannya tidak ideal ebab ia ketakutan dituduh pezina oleh keluarganya padahal ia orang suci, tapi ia sanggup menggoyang pohon kurma?
Itulah ketentuan Allah Ta’ala dalam mencurahkan tenaga, agar makna hakiki tawakkal terealisir dengan manis. Karena itu, orang yang bertawakkal kepada Allah harus mencurahkan tenaga dan berusaha. Inilah ketetapan Allah. Makna ini terlihat dengan jelas di banyak ayat Al-Qur’an dan sirah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Kita lihat Allah berfirman :
“Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tapi Allah yang melempar (Al-Anfal : 17).

Itu terjadi setelah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam mengambil segenggam tanah dan melemparkannya ke wajah orang-orang kafir di salah satu perang. Lalu, tanah mengenai mata seluruh orang kafir dna menjadi salah satu sebab kemenangan kaum muslimin. Allah menghendaki sebab tersebut pada Rasulullah, yaitu melempar segenggam tanah, sedang pemberi kemenangan hakiki adalah Allah sendiri. Karena itu Allah tidak “memperhitungkan” lemparan Rasulullah dan menganggap “lemparanNya”. Sebab, setelah bertawakkal kepada Allah, Rasulullah tidak menambahkan sesuatu apapun pada usaha beliau. Hal yang sama terjadi pada tongkat Nabi Musa Alaihis Salam.

(Sumber : Taujih Ruhiyah 1, karya : Abdul Hamid Al-Bilali)