Selasa, 21 Juni 2011

INVESTASI AKHIRAT MENYAMBUT RAMADHAN






Alhamdulillah,...
insyaAllah Forsila Utama akan mengadakan baksos dan tarhib Ramadhan yang akan dilaksanakan di Kampung Pitara Rt. 006/07, Rangkepan Jaya, Pancoran Mas, Depok, pada tanggal 24 Juli 2011.

acara ini merupakan salah satu proker kami, salah satu proker "keluar", artinya sebagai bukti konstribusi dakwah dan kepedulian kami, yang tentunya dengan terus mengharap ridho dari Allahu ta'ala.

adapun acara ini kami kemas dalam 2 bentuk kegiatan : penjualan sembako murah (insyaAllah hingga di atas 50% dari harga pasar) dan kegiatan ceramah tarhib Ramadhan, sebagai bekal kita untuk menyambut bulan nan berkah itu.

maka tidak ada salahnya ketika kami beri tema "Nikmat dan Berkah Ukhuwah untuk menyambut bulan nan Indah".

harapan kami, bagi para donatur, bagi para pecinta jalan kedermawanan...
agar dapat membantu terselenggaranya acara ini...

peluang INVESTASI AKHIRAT MENYAMBUT RAMADHAN....
kami persembahkan untuk Anda...
mari kita dukung !!!

Kamis, 09 Juni 2011

ORANG PERTAMA YANG MASUK SYURGA

Orang pertama dari seluruh umat manusia yang hidup di dunia yang masuk syurga adalah nabi kita, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam dan umat pertama yang akan masuk ke dalamnya adalah umatnya.

Ibnu Katsir mengutip sejumlah hadits yang menerangkan tentang hal ini. Antara lain, hadits yang diriwayatkan Muslim dan Anas bahwa Rasulullah telah bersabda “Aku adalah orang pertama yang mengetuk pintu-pintu syurga”.

Muslim juga meriwayatkan dari Anas bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam bersabda, “Aku akan datang ke pintu surga dan meminta supaya pintu tersebut dibuka. Penjaga surga bertanya, “Siapakah engkau?” Aku berkata, “Muhammad”. Penjaga surga berkata lagi “Aku diperintah untuk tidak membuka pintu ini bagi siapa saja sebelum engkau”.

Bukhari, Muslim dan Nasa’I meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam bersabda, “Kita adalah umat yang terakhir, tetapi kita adalah umat yang pertama pada hari pembangkitan nanti. Kita adalah yang pertama dari seluruh ummat manusia yang masuk syurga”.

Sumber : Ensiklopedia Kiamat, Karya : Dr. ‘Umar Sulaiman al-Asyqar

Senin, 28 Maret 2011

Jika Kalian Bersyukur, AKU Tambah NikmatKU Pada Kalian

Setan Membuka Hakikat Penting
Ketika diperintahkan Allah Ta’ala sujud kepada Nabi Adam Alaihis Salam, setan menolak melaksanakan perintah ini. Akibatnya, ia diusir, dimasukkan ke dalam jajaran makhluk terkutuk, dan diancam masuk neraka. Setan tidak hanya mendengar perintah pengusiran dirinya. Tapi, dengan sikap pongah, yang malah menunjukkan kebrengsekannya, ia berjanji akan menyesatkan anak keturunan Adam Alaihis Salam, yang menurutnya menjadi biang keladi pengusirannya dari surge. Setan berkata,

“Saya pasti (menghalang-halangi) mereka dari jalanMU yang lurus. Kemudian saya pasti mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur”. (Al-A’raaf : 16-17).

Di sini, setan membuka hakikat penting yang tidak diketahui banyak orang, yaitu mayoritas besar manusia tidak bersyukur kepada Allah Ta’ala dan orang yang selamat di antara mereka adalah orang yang bersyukur.

Definisi Syukur

Kalimat “Syakarat Ad-Dabbatu”, maksudnya, unta itu gemuk. Unta dikatakan gemuk jika terlihat padanya tanda-tanda makanan yang telah dimakannya. Unta dikatakan syakur jika terlihat padanya kegemukan melebihi kadar porsi makanan yang telah dimakannya (Uddatu Ash-Shabirin, hal. 122 dan Madariju As-Salikin, hal. 384).


Hai Keluarga Dawud, Lakukan Syukur kepada Allah
Allah Ta’ala tidak berfirman kepada Nabi Dawud Alaihis Salam, “Ucapkanlah syukur kepada Allah”, namun berfirman, “Lakukanlah”. Ini menandaskan syukur tidak terealisir dengan sempurna, kecuali dengan mengamalkan perintah Allah Ta’ala dan menjauhi laranganNya. Jadi syukur ialah realisasi ibadah itu sendiri. Ini tidak seperti dipahami sebagian besar orang bahwa syukur itu memuji Allah Ta’ala dengan lidah atau komat-kamit setelah shalat, atau setelah makan kenyang.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Menerjemahkan Syukur ke dalam tindakan Nyata
Aisyah Radhiyallahu Anha merasa heran dengan qiyamu lail Rasulullah. Beliau melakukannya hingga kedua kaki beliau bengkak. Dengan nada takjub dan penuh tanda tanya, Aisyah berkata : “Engkau masih berbuat seperti ini, padahal allah telah mengampuni dosa-dosa silammu dan dosa-dosamu pada masa mendatang”. Rasulullah bersabda :” Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?”. (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak memahami syukur sebatas pujian dengan lidah. Menurut beliau, syukur ialah upaya seluruh organ tubuh untuk mengerjakan apa saja yang diridhai pemberi nikmat (Allah).

Seluruh makna syukur ini dirangkum Ibnu Al Qayyim Rahimahullah dengan perkataannya, “Syukur ialah terlihatnya tanda-tanda nikmat Allah pada lidah hambaNya dalam bentuk pujian, di hatinya dalam bentuk cinta kepadaNya dan pada organ tubuh dalam bentuk taat dan tunduk”.
Bentuk konkrit syukur ialah lidah tidak menyanjung selain Allah Ta’ala dan di hati tidak ada kekasih kecuali Dia. Kalaupun seorang mencintai orang lain, ia mencintainya karena Allah. Lalu, cinta ini dialihkan ke organ tubuh, kemudian seluruh organ tubuh mengerjakan apa saja yang diperintahkan kekasih (Allah) dan menjauhi apa saja yang Dia larang. Itulah figure orang syukur sejati.

(Sumber : Taujih Ruhiyah 1, karya : Abdul Hamid Al-Bilali)